ISN or ITS
ISN or ITSInstitut Sepuluh Nopember di Kalender
Ini bukan dialog antara anak dan bapak, tapi antara orang “belum tahu” dan orang yang “pernah tahu”. Terjadi Selasa siang setelah "makan nasi" di siang hari (kami tidak pernah "makan siang" - agar tidak kehabisan waktu). Saya hafal benar karakter anak ini, kalau perutnya kosong dia ndak mampu berpikir hanya bisa merasa. Namun ketika isi perutnya cukup bola matanya langsung cerah.
Dengan menimang kartu nama saya – IKA ITS – Jakarta Raya, dia meneliti dan membandingkan leaflet biru (terlampir) lalu bertanya :
Aaron : “Lho pak, ini kok beda piye to iki? tanyanya setengah bahasa Indonesia dan Jawa dengan logat Betawi
Pudji : “Opo?”
Aaron : “Ini lho,..ITS kok Institut Sepuluh Nopember?”
Pudji : “Mana…?..Ohhhh..itu sudah bener..!” Ampun..!, agak kaget juga saya. Agar tidak ketahuan kaget, kepalanya saya pegang keras-keras biar sedikit menjerit. Ternyata tidak...memang bandel.
Aaron : “Lho bener piye to iki? Lha kata Teknologi-nya mana? beda sama yang di kartu nama...wahh…ini kelalaian atau ketidak-telitian pembuat leaflet pak. Padahal ini kan leaflet yang akan memuat hasil riset, hasil penelitian, lha kok malah ndak teliti, …iki piye to?. Bantahnya setengah ngeyel.
Karena anak ini kalau ngeyel jelek, maka keluarlah semangat 10 Nopember saya “right or wrong is my campus”
Pudji : “Ini sudah bener, Institut Sepuluh Nopember sudah bener, Institut Teknologi Sepuluh Nopember juga bener” suara saya menghentak meyakinkan
Aaron : “Lhooo..” dia heran setengah melongo
Pudji : “Lhaa…Lhooo…Lhaa…Lhooo”
Aaron : “Lalu bedanya apa dong?”
(Sejenak saya ingat kata teman saya pemain Ludruk Tamatan ITB – Sentot yang sering bercanda bareng)
Pudji : “Gini lho, kalo ITS – Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu kampusnya di Keputih – Sukolilo Surabaya, kalo Institut Sepuluh Nopember itu kampusnya di Kalender” saya menjelaskan dengan nada tegas.
Aaron : “Maksudnya di Klender?” Tanyanya setengah tidak yakin
Kepalang bohong, maka saya berusaha untuk "serius bohong"
Pudji : “Iyaaa..itu lho Jatinegera lurusss terus ke arah Bekasi” jawab saya setengah menahan tawa.
Sejenak dia balik badan dan meneliti raut wajah saya……geleng-geleng kepala lima kali…lalu beranjak dari kursi
Aaron : “Permisi pak…!”
Pudji : “Lhoooo…kemana?”
Aaron : “Ke Toilet, bukan ke kamar kecil”
Rupanya untuk serius bohong saya masih perlu banyak latihan….aampunn Pemerintah…!..kata teman saya Almarhum mBah Surip.
Nuwun ngapunten ingkang tulus,
Pulomas, 11 Agustus 2009
Pudjidiot
